Feeds:
Tulisan
Komentar

Lucu ya, ternyata hal-hal yang paling aku sukai bisa juga membuatku muak setengah mati. Aku benar-benar bingung dengan kondisi mood-ku akhir-akhir ini. Bukankah aku telah ‘mengorbankan’ kehidupanku yang lama demi bisa melakukan hal-hal yang paling kusukai, dan yang kuingat aku melangkah masuk ke dunia baru ini dengan sangat antusias dan bahagia. I was skipping happily all the way to the pawnshop*. Tapi beberapa hari ini aku melakukannya dengan menyumpah-serapah, sama sekali tidak dengan hati. Dan rasanya apapun yang kuhasilkan dengan tanganku begitu buruk, tidak pantas, jelas tidak memuaskanku. Bukan berarti aku butuh liburan. Justru aku begitu sibuk bersenang-senang sehingga aku mulai mempertanyakan, apa sih artinya senang-senang? Liburan adalah sesuatu yang orang lakukan untuk melepaskan diri sejenak dari kesibukan. Jadi begitu aku melakukannya setiap hari, dia mulai kehilangan maknanya. Dan ketika hal yang paling kusukai ternyata tidak lagi membuatku senang, apa lagi yang harus kucari?

Kemana lagi aku mesti mencarinya?

 

Kemarin aku bertemu seorang teman. Teman yang sungguh hebat. Setiap hari dia bekerja menjadi seorang pegawai negeri sipil dari pagi hingga pukul 4 sore. Mungkin tidak ada  yang terlalu hebat dengan itu, namun setelah itu dia masih melanjutkan bekerja di sebuah laboratorium di kampus mulai pukul lima sore hingga setengah delapan malam. Setiap harinya. Dia menjalani yang pertama karena itulah keinginannya sejak dulu, dan menjalani yang kedua untuk uang.

 

Dan aku merasa sangat santai. Apa yang sedang kulakukan? Mengejar mimpi? Tidak terlalu. Aku merasa sedang berjalan begitu lamban, bahkan berhenti di sana-sini seolah-olah menunggu ada orang yang berteriak menyuruhku jalan. Dan bahkan seperti yang tadi kubilang, aku sedang sangat muak menjalaninya. Lalu apakah aku sedang mencari uang? Tidak juga. Keuanganku begitu menipis sehingga untuk pergi makan keluar pun aku harus berpikir dua kali.

 

Jadi, mari kembali lagi ke pertanyaan bernilai satu setengah juta rupiah perbulan itu, “What the hell am I doing here?”

 

Sabtu 24 Mei 2008

17:33

Aku sebal, kamu membangkitkan lagi ingatan lama yang tidak ingin kuingat-ingat. Tentang siapa diriku sebenarnya, orang macam apa aku ini, yang jelas jauh berbeda dengan gaya hidupmu yang serba tinggi.

 

Aku sebal, kamu membuat aku meruntuhkan sendiri kepercayaan diriku yang sudah susah payah kubangun sejak bertahun-tahun. Kamu membuatku lupa di mana aku sudah berpijak dengan begitu mantap, kamu membuatku mempertanyakan kembali posisiku di duniaku yang begitu kubanggakan dan kucintai selama ini.

 

Aku sebal, kamu membuatku melupakan rasa puas itu, kamu membuatku mulai melirik kembali warna-warna hijau-biru-ungu dan segala warna rumput-rumput tetangga.

 

Kita ini jelas berbeda, tapi haruskah kamu membuatku merasa begitu kecil? Aku tidak suka kamu bilang bosan dengan duniamu dan kini kamu tertarik padaku. Apa maksudmu? Duniaku tidak setinggi itu, begitu? Aku benci kamu merendahkanku, tapi aku lebih benci diriku sendiri karena merasa rendah hanya karena aku berbeda denganmu.

 

Aku memang tidak ingat kamu bilang aku rendah. Aku ingat kamu bilang kamu hina, dan aku bahkan ingat kamu bilang aku sempurna. Tapi justru aku tidak sempurna, aku hina, hanya saja dengan cara yang berbeda denganmu. Caramu menyebutku sempurna hanya membuatku semakin merasa rendah.

 

Jadi, hentikanlah segala omong kosong itu. Aku jelas tidak mencintaimu. Dan aku tidak kangen padamu. Jangan datang padaku hanya karena kau bosan dengan kegemerlapan.

 

Minggu 18 Mei 2008

12:04

-

Pacar lo, orangnya kayak apa sih?

 

+

Dia… seperti seorang sahabat.

Dia sudah bareng gue sejak jaman gue masih jebrut banget, sampai sekarang – gue masih jebrut sih, tapi mendingan lah – dan dia selalu ada, mau gue lagi aneh, lagi nyebelin, lagi brengsek, dia selalu ada.

Dia selalu mendengarkan, memberi masukan, tapi nggak pernah menggurui. Gue orangnya suka nggak bisa terima dinasehatin orang, tapi gue dengerin dia.

Setiap gue lagi buntu, dia selalu punya solusi.

Dia orang yang bisa membimbing gue, mengeluarkan semua kebaikan dari dalam diri gue. Dia nggak ngajarin gue gimana caranya jadi orang yang lebih baik, tapi dia membuat gue belajar dan mengerti dengan sendirinya gimana supaya jadi lebih baik.

I think I’m nothing without him.

 

17 Mei 2008

Terimakasih, untuk sesorean kemarin. Untuk nostalgia sejenak mengulang kembali apa yang pernah kita lakukan. Tempat yang sama, rasa yang sama, waktu dan lagu-lagu yang berbeda. Dinding yang sama. Dan apa yang tak terucap mungkin akan tetap begitu selamanya. Walaupun begitu, terimakasih untuk kesempatan mengucapkan selamat tinggal untuk kedua kalinya. I guess this time it really is goodbye.*

 

Terimakasih untuk pelajaran barunya, hei petualang wanita. Kau memperlakukanku sungguh dengan manis sekali. Rayuanmu sungguh dahsyat. Walau maaf saja, takkan mempan padaku. Kata-kata manismulah yang akhirnya membawa kita pada perdebatan seru itu, di mana aku sekelebat merasa begitu bersalah, begitu keji, begitu bodoh sekali lagi… tapi tidak, tidak pernah ada kebodohanku yang aku sesali. Tidak juga yang ini.

 

Tapi memang seharusnya aku tahu, aku tak perlu mencari terlalu jauh. Aku terlalu sibuk berkelana mencari hal-hal baru yang membangkitkan desir-desir hati, dengan melakukan banyak kebodohan. Walau bukan mengulang kebodohan yang sama tentu saja. Selalu ada hal baru yang kita pelajari dalam berbuat bodoh, untuk kemudian menjadi bekal bagi kebodohan berikutnya. Karena, hey, menjadi dewasa bukan berarti tidak lagi berbuat bodoh. Dewasa itu berarti mengetahui bahwa itu tindakan bodoh, tahu apa resikonya jika itu dilakukan, sehingga tak masalah jika akhirnya aku tetap melakukannya. Yang penting aku menikmati saat melakukannya. Dan memang orang bodoh sepertiku perlu diperingatkan berkali-kali agar sedikit pintar.

 

Dan terimakasih, mengingatkanku dengan kalimat itu. “Standing next to you will always be me…”, kubaca di taglinemu. Seketika air mataku pun tumpah.

 

16 Mei 2008

 

 

 

*Rain outside my window pouring down
What now, your gone, my fault, I’m sorry
feeling like a fool cause I let you down
now it’s, too late, to turn it around
I’m sorry for the tears I made you cry
I guess this time it really is goodbye
you made it clear when you said
I just don’t love you no more

(Don’t Love You No More – Craig David)

Seseorang yang berpikiran positif, jika terus-menerus berada dalam lingkungan yang negatif, lama kelamaan akan terpengaruh juga. Tanpa sadar ia akan mengabsorbsi substansi-substansi negatif tersebut, yang akan mengendap di balik permukaan kulitnya, bersembunyi dalam sudut-sudut gelap pikirannya, dan sekali dua kali meloncat keluar melalui perkataannya. Tapi tunggu, mungkin aku terlalu mengeneralisasi. Aku bicara tentang diriku, yang dapat kubayangkan seperti sebungkah kecil batu kerikil di air sungai yang mengalir. Aku selalu cenderung mengikuti kemana arus mengalir, going along with the flow. Aku tidak bicara tentang batu cadas yang kokoh tegak berdiri. Seseorang yang berkepribadian kuat akan cenderung mempengaruhi sekitarnya daripada terpengaruh arus. Seseorang yang berkepribadian kuat tidak akan terganggu oleh hal-hal kecil, dia akan mengibaskan begitu saja ion-ion negatif yang berterbangan di udara, menolak untuk memasukkannya dalam pikirannya.

 

Sedangkan aku? Tidak peduli bagaimana aku berusaha sekerasnya untuk tidak mengacuhkan perkataan-perkataan yang berusaha menjatuhkanku, ternyata aku tetap memikirkannya juga. Dan parahnya, bukan hanya sekedar memikirkannya, aku bahkan mulai merasa bahwa mungkin itu benar, mungkin memang aku yang bersalah, mungkin memang akulah yang terburuk di dunia. Yah, orang sepertiku bisa menjadi sangat desperate jika kau mengucapkan kata-kata yang tepat padaku. Dan apa yang terjadi kemudian? Pada suatu titik aku mengerti bahwa terkadang aku harus menerima begitu saja keberadaan hal-hal buruk itu dalam hidupku dan mencoba terus hidup dengannya – tapi ternyata lama kelamaan aku tidak sanggup. Aku ingin kedamaian, aku ingin hidup tanpa beban, dan tentu saja aku berhak atas itu. Dan aku selalu punya pilihan. Kurasa aku tidak pantas ditekan, tidak ada seorangpun yang berhak membuatku merasa terintimidasi. I don’t deserve that. Dan di sinilah aku, melepaskan diri dari tempat yang negatif itu, berkuasa penuh atas kebahagiaanku sendiri. 

 

Seorang teman (yang berkepribadian kuat, omong-omong) melihat bahwa aku masih berhubungan baik dengan orang-orang dari tempat itu dan dia bertanya apakah aku menyesal telah memutuskan untuk pergi dari sana. Tentu saja tidak, kataku. Kalau kau melihatku jauh lebih berbahagia dan menikmati hidup sekarang ini, itu justru karena aku melepaskan diri dari pengaruh negatif yang sempat menguasaiku itu. Aku tidak akan bisa menjadi seperti yang sekarang ini dengan terus bercokol di sana. Kulihat ia mengangguk setuju, tentu saja dalam konteks aku, kasusku. Permasalahannya akan lain sekali kalau kami berbicara dalam konteksnya. Kemudian dia berkata bahwa itulah pentingnya bagi seseorang untuk memiliki banyak circle of life. So when one fails you, you still have the other ones. Dan kurasa saat itu aku telah menjadikan pekerjaanku sebagai the main circle of my life, yang tentu saja tidak aneh mengingat sebagian besar waktuku terserap ke sana. Mungkinkah seseorang dapat memiliki banyak circle of life dengan porsi yang seimbang? Ah, itu akan menjadi topik tersendiri yang dapat kubahas dengan panjang lebar dengan temanku itu, mungkin lain kali. Aku akan mengingat untuk menuliskannya.

 

Was I crying all the way to the pawnshop? No, I was skipping happily and was looking forward to it.

 

Selasa 6 Mei 2008

17:34

 

*judul lagu Pelle Carlberg dalam album In A Nutshell

If I don’t like you, I won’t pretend that I do. We’ve never been that close, anyway, so why bother? I’m sick of all of this crap, so just say it, for God’s sake, be a man and say it!

 

Alright, I must admit that maybe I watch American TV serials too much that I copy their language. Not only their language, actually, their self-confidence and strong personality also stunned me. From what I see, they are proud and always stand to be themselves no matter what the others would think. And if they like or don’t like someone, they just say it or show it, they won’t bother pretending. This is so different from Indonesian people, I think. Since we were children we had been told that we must always give respect to other people, make friends with anyone, don’t choose who you want to be friends with, and so on and so on. It’s not usual having someone say in front of our face that he/she doesn’t like us. Doesn’t it one way or another teach you to be some kind of hypocrite?

 

Maybe I’m just sick, you know, of having some guy act and talk so mean to me and I don’t have any idea what I did wrong. I’m tired of forcing myself to be nice to someone I don’t like, trying to make conversation even though every words she/he might say just make me hate her/him even more. Or our conversations will just end up with arguments because our principles are way too different. I mean, why doesn’t he just say he hates me and then we can stop pretending that we’re friends? Is it wrong if I just quit trying to talk to her and save our breaths? Am I mean if I don’t ask her to join me and my group hanging out together because we would never fit-in? No, I fully understand why Carla did that to Elliot once and no, I quit giving her second chances. I’m sick of trying, and she always fails me. People will think that I’m the bad guy, but I don’t care anymore. They should consider what I suffered in the first place.

 

So I’m just trying to be more like me, really. And I also put some extra efforts to be less controversial. If somebody still thinks that I’m harsh, then hey, is it me or is it his problem? I’ve experienced the worst, that kind of tiny little thing won’t bother me anymore. They could say mean words to me and I would just smile. I’m glad I made the right decision by resigning from my job, because that really got the stress out of me and made me a soother and happier person. And give me a lot of free time to watch those American TV serials, of course.

 

Friday, April 25, 2008

1: 18

foto: dok. www.zach-braff.com

 

Hari ini akhirnya aku menonton juga serial Scrubs, season 1 (telat sekali, memang). Scrubs menceritakan keseharian para dokter muda yang baru saja lulus kuliah kedokteran dan sedang internship di rumah sakit. Mereka menghadapi berbagai macam problema dalam berinteraksi antar sesama pekerja rumah sakit, menghadapi pasien, sampai berseteru dengan dokter-dokter senior. Kesan pertamaku di episode pertama, sederhana sekali ya filmnya. Serial favoritku itu Friends, dan Friends ceritanya lumayan kompleks, ada 6 karakter yang digambarkan sangat kuat. Selain interaksi antar mereka, masing-masing juga punya dunia dan permasalahannya sendiri dengan setting yang beragam, persoalan dengan pasangan kencan, orangtua, rekan kerja, dan sebagainya. Jadi ceritanya sangat variatif dan luas. Sementara di serial Scrubs (paling tidak di episode-episode pertama, yang sudah kutonton) tokoh sentralnya hanya 4 orang, mereka adalah dokter dan suster yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di rumah sakit dan bisa dibilang tidak memiliki kehidupan lain di luar. Sehingga cerita yang ditampilkan sebatas keseharian kerja di rumah sakit itu. Karakter para tokohnya pun belum dikembangkan secara maksimal. Namun ini lagi-lagi karena aku membandingkannya dengan serial favoritku yang katanya sampai memakai 6 orang yang berbeda untuk pengembangan tokoh, satu orang untuk satu tokoh, sehingga masing-masing tokoh memiliki kepribadian kuat dan khas.

 

Ilustrasi-ilustrasi hiperbolis dalam Scrubs-lah yang awalnya membuatku tertarik dan terus menonton, hingga tanpa sadar aku keasyikan dan menghabiskan 8 episode sekali duduk. Sampai akhir episode 8 aku masih berpendapat bahwa ceritanya sangat sederhana, namun ternyata di situlah daya tariknya. Scrubs menunjukkan padaku bahwa ada makna lebih yang dapat digali dari kejadian-kejadian kecil yang seringkali kuanggap remeh, kalau saja aku mau memperhatikan lebih seksama. Cerita yang membekas di benakku adalah mengenai Elliot. Elliot ini seorang dokter wanita (ya, wanita, dengan nama pria), fresh graduate yang sedang internship di rumah sakit tersebut. Dia adalah tipikal orang yang cerdas, agak nerd, oportunis, dan pembawaannya kurang luwes dalam berteman, terutama karena kata-katanya yang seringkali membuat orang sebal. Itu membuat dia hampir tidak punya teman dan selalu makan siang sendirian. Pada suatu episode diceritakan Elliot memiliki waktu bebas dan bertanya pada Carla (Carla adalah seorang suster yang awalnya selalu cekcok dengan Elliot namun belakangan hubungan mereka mulai membaik walaupun tidak terlalu akrab) apa yang akan Carla lakukan malam itu selepas kerja, dan Carla menjawab dengan agak salah tingkah bahwa dia akan pergi makan malam dengan seorang teman. JD (tokoh utama serial ini) menyaksikan kejadian yang kurang enak ini dan maklum bahwa Carla tidak akan menawarkan Elliot untuk ikut dengannya, namun ia juga kasihan pada Elliot dan JD adalah tipe orang yang tak pernah bisa menahan mulutnya. Maka JD bertanya mengapa Carla tidak mengajak Elliot, yang langsung disambut dengan sangat antusias oleh Elliot dan reaksi sebal Carla (yang tentu saja digambarkan dengan sangat hiperbolis khas Scrubs). Belakangan Elliot dan Carla tampak sudah siap untuk pergi, Elliot tampak sumringah sekaligus waswas dengan penampilannya, bertanya pada Carla apakah setelan yang dia pakai (kemeja nuansa putih-pink dengan rok khaki selutut dan scarf di leher) sudah cukup ‘hip’. Carla sendiri mengenakan gaun yang tampak lebih sesuai untuk acara hang out itu. Lalu mereka bertemu dengan teman Carla yang bernama Patricia, dan saat sudah akan pergi pager Carla berbunyi mengabarkan sesuatu, dan Carla berkata, “Sorry I have to cancel.” Dan acara makan malam itupun batal.

 

Elliot akhirnya menghabiskan malam itu di sebuah bar sendirian, dan alangkah kagetnya dia ketika di tempat itu ia berpapasan dengan Carla dan Patricia. Carla tampak sama kagetnya, ia hendak menjelaskan sesuatu namun Elliot hanya menunjukkan muka kesal dan berlalu. Carla menghindari Elliot selama beberapa waktu sampai akhirnya ia mendekati Elliot untuk meminta maaf. Carla berkata bahwa alasan dia melakukan itu semata karena dia sudah lama sekali tidak bertemu Patricia. Namun Elliot menyanggah dan berkata dengan nada tinggi bahwa dia mengerti Carla melakukan itu karena Elliot akan susah fit-in dengan mereka berdua. “Like I could ever fit-in with anyone!” Dan walaupun menyakitkan, memang seperti itulah kenyataannya.

 

Cerita diakhiri dengan kejadian kecil ini: Carla yang sepertinya merasa bersalah menjadi bersikap lebih manis pada Elliot, lalu seorang suster yang melihat Elliot bermuka sedih menawarinya segelas minuman, “Hot chocolate, Dear?” Elliot tampak agak terkejut namun tersenyum dan menerimanya sambil berkata, “Thanks.”  Yang dijawab dengan, “Anytime, Sweetheart.” Saat Elliot menyisip minumannya, JD lewat dan menyapanya. Hanya dengan lambaian tangan dan sepatah kata ‘hai’, namun rangkaian kejadian-kejadian yang sepintas terlihat remeh ini rupanya membuat Elliot tersentuh dan merasa jauh lebih baik. So why are you trying so hard to fit-in when you’re actually there? Jadi begitulah, tanpa berisikan kejadian-kejadian heboh dan serba kebetulan ala friends yang selalu membuatku terbahak-bahak, Scrubs menarik minatku dalam kesederhanaannya yang mengena.

 

Selasa, 22 April 08

foto: dok. migration.wordpress.com

 

Oh Tuhan,

Aku sungguh tidak percaya sampai saat ini aku masih saja memikirkan hal itu. Kupikir aku sudah mulai melupakannya, dengan perlahan. Tapi mestikah sepelan ini? Harus sampai kapan, Tuhan…

 

Sejak saat pertama itu, sejak tatapan mata tiba-tiba bermakna, aku tidak pernah tenang lagi. Mata ini selalu mengikuti milikmu, baik kamu ada maupun tiada. Jangan salahkan mataku, jangan salahkan kacamatamu, walaupun itu selalu jadi pembenaranku. Dan batin ini tak henti bertanya-tanya, tentang apa yang ada di baliknya.

 

Hei, sudah sekian lama aku berusaha menarik uluran benang-benang kebenaran. Benang-benang yang rapuh, serapuh titian antara hatiku dan hatimu. Saat kamu datang mendekat, kupikir segalanya akan lebih mudah. Tapi kita berjalan perlahan sekali. Tanpa arah, tanpa pegangan, kita bahkan berjalan tanpa saling melihat. Apalagi berpegangan tangan, bersentuhan pun tidak.

 

Perlahan kamu membuka dirimu, aku tahu. Perlahan kamu melihatku, aku bisa lihat. Dan perlahan aku merasa aku ada. Tapi hanya sampai di situlah kamu melangkah. Ya, tepat di garis itu kamu berhenti. Salahkan aku, salahkan ketololanku. Itu garisku, batasanku, aturanku. Penjagaku.

 

Oh Tuhan, Apakah sekali lagi Kau sedang menegurku dengan kebodohanku sendiri?

 

Aku tahu aku bodoh. Sejak awal aku tahu aku bodoh bermain-main dengan kelemahanku sendiri. Aku tahu dinding itu akan selalu ada, dan tak peduli bagaimana aku dan kamu bermain-main, aku tak akan pernah melangkahinya, seperti juga kamu tak pernah berpikir untuk melangkahinya. Dan kuakui aku telah menuntunmu sangat dekat ke dinding itu. Aku merasakan kehadiranmu, dekat sekali, seakan bisa kusentuh dengan ujung jari, walaupun kamu ada di baliknya. Dan aku marah-marah karena kamu tak kunjung muncul. Aku berteriak-teriak memanggil namamu, frustasi karena kamu tak kunjung membalas teriakanku. Kamu bahkan tak berbisik. Kamu hanya diam, selalu hanya diam.

 

Ingatkah kamu saat-saat terakhir kita masih bersama? Kamu seperti orang yang berbeda, nyaris seperti teman. Memanggilku seperti seorang teman, mengobrol denganku seperti seorang teman dekat, dan mengucapkan kata-kata perpisahan layaknya seorang sahabat lama. Dan kamu tak menghindar berdekatan denganku. Dan bahu kita bersentuhan, aku merasakannya. Apa kamu merasakannya?

 

Dan kata-kata perpisahan itu benar-benar lebih sakti dari sebidang tembok. Tahukah kamu bahwa sebenarnya aku ingin mengucap lebih banyak daripada sekedar selamat tinggal? Bahwa ada ribuan riak di dadaku yang timbul tenggelam? Bahwa ternyata butuh lebih dari sekedar waktu dan jarak untuk membunuh rasa penasaran?

 

Tuhan, sudah setahun empat bulan dua puluh tujuh hari dan dia masih saja ada. Sudah tiga puluh enam hari dan dia belum menghilang. Butuh sekejap mata untuk jatuh, dan butuh lebih dari selamanya untuk bangun. Kalau satu kalimat saja bisa menopangku berdiri tegak, tolong sampaikanlah, Tuhan…

 

Sabtu 19 April 2008

03:10

« Newer Posts