Hon,
Dari awal aku sudah bilang, bahwa pada suatu hari mungkin aku memang harus menerima,
Bahwa kenyataan mungkin tidak seideal dan seindah yang dibayangkan.
Tapi sebenarnya, aku ingin melihat usaha dari kamu,
Untuk mempertimbangkan keinginan-keinginanku.
The thing is,
Aku sudah terlalu lama hidup hanya dengan bayang-bayangmu.
Bukan dirimu seutuhnya, hanya bayangan tentang dirimu sebatas yang aku pernah tahu.
And the thing is,
People seem to change a lot.
Now I don’t think I really know you.
Do you call this a relationship?
I have my own little world and you are always too busy with your own life, and we don’t share too much as the only media we have don’t show who we really are.
Aku hanya ingin kita sempat berkenalan sebelum melangkah lebih jauh.
Agar aku tidak terlalu kaget lagi dengan warna-warni barumu.
Kamu bilang, “Aku akan jadi suamimu, kamu harus percaya sama aku.”
Memangnya apa yang akan membedakan perlakuanmu padaku sebagai pacarku dan sebagai suamiku?
Kalau sebagai pacarku kamu sulit meluangkan waktu dan menjadikanku prioritas yang kesekian, apa yang menjamin bahwa sebagai suamiku kamu tidak akan melakukan hal yang sama?
Apakah ini tentang jarak?
I hate this so-called-long-distance-relationship then.
12 november 08