Akhirnya aku mencoba menyesap hening dan sepi selama beberapa menit. Hening untuk mendengarkan hati, sepi untuk sendiri. Dan seketika itu pulalah jawaban itu muncul. Benar juga apa yang pernah dikatakan seorang sahabatku, kadang kita terlalu banyak mendengarkan suara-suara orang. Dan mereka bising sekali, berdengung-dengung di kuping kita. Mungkin kita hanya perlu mengibaskan tangan dan berhenti mendengarkan riuh-rendah yang majemuk dan berlapis-lapis itu.
Karena tidak akan ada habisnya mereka didengarkan. Apa yang aku lakukan sekedar ‘demi memuaskan’ mereka bahkan takkan ada artinya dalam kehidupan mereka. Tapi apa yang aku lakukan dengan hatiku akan membuat hidupku jadi lebih menyenangkan.
Ya, sesederhana itulah tujuan hidupku. Untuk dijalani dengan senang. Untuk merasakan bahagia. Untuk dinikmati sepenuh hati. Aku tidak mau lagi membuang-buang waktu untuk merasa tertekan dan tidak bahagia. Tidak juga demi uang.
Buat apa coba cari uang banyak-banyak? Untuk dihabiskan menghibur hati yang lelah karena mencarinya? Atau supaya merasa aman? Menenangkan hati orangtua dan orang-orang lain yang terlalu sibuk bertanya-tanya? Bukankah sudah cukup asal tidak kekurangan?
Aku cuma lupa, kenapa aku menggadaikan rasa aman itu empat bulan lalu. Bukan demi prestise. Jelas tidak dalam waktu dekat dan tidak pula untuk jangka panjang. Dan kalau aku bilang bahwa aku sedang merintis, maka itu kulakukan bukanlah demi membuktikan diri. Bukan pula sekedar justifikasi atau pembelaan diri. Tapi suatu proses menikmati hidup.
Hingga akhirnya kukatakan pada diriku sendiri, aku harus percaya, jangan takut, jangan berpikir negatif, jangan menyerah pada ujian-ujian yang pasti datang. Walau tak disangka-sangka ujian pertama datang darinya, dia dengan ucapannya yang terasa agak menggelitik, dia yang justru sudah sejak lama mendorongku untuk mencoba menyesap hening dan sepi.
7 juli 08