Aku suka merah, aku suka biru. Aku tidak pernah suka ungu.
Aku suka gelas yang terisi penuh. Akan kuhabiskan airnya sekali teguk. Aku tidak suka membiarkannya tinggal setengah.
Aku suka kata ‘iya’. Dan aku bisa memahami kata ‘tidak’. Tapi aku tidak suka apapun di antaranya.
Aku suka segala yang terang-benderang. Aku benci gelap. Aku benci harus meraba-raba dan mengira-ngira.
Aku menyukai pola-pola. Bentuk-bentuk yang jelas, rapi, teratur, dan berirama. Seperti bunyi detak lampu sen. Di mana bunyi selanjutnya dapat dipastikan di mana jatuhnya.
Aku suka penggaris, meteran, timbangan, measuring cups. Segala yang terukur. Segala yang tak terukur pun akan kuukur dengan pasti, berkali-kali. Aku tidak percaya pembulatan dan probabilitas.
Aku cinta kepresisian, ketelitian. Dan aku benci ketidakpastian, ketidaktepatan.
Aku suka kata cinta. Aku bisa menerima kalau tidak ada cinta. Tapi aku tidak suka bertanya-tanya.
Aku bahagia menikmati cinta. Meski patah hatipun bisa kunikmati dengan penuh inspirasi. Tapi aku benci terombang-ambing, merasa kosong.
Aku ingin sekarang, atau tidakpun tidak apa-apa. Tapi aku benci harus menunggu dan bersabar.
Aku ingin mempercayai ‘akan’, mengerti ‘tidak akan’. Aku tidak mau mendengar ‘mungkin’.
Jadi. Tolong. Sekarang.
16 juli 08