Sebuah lagu lama dari sekitar tahun sembilan puluh lima yang tiba-tiba diputar di radio selepas azan magrib membuatku teringat masa-masa aku masih kelas satu SMP. Saat itu aku memiliki seorang teman yang menjadi teman dekat karena jalan pulang kami searah dan kami sering mampir kesana-kemari sebelum pulang ke rumah.
Suatu hari ceritanya aku ingin membeli bedak muka pertamaku, maka kami pergi ke supermarket yang dekat dengan sekolah kami. Karena itu pertama kalinya aku membeli alat kosmetik, aku merasa sedang melakukan sesuatu yang penting dan tidak boleh sampai salah memilih. Ternyata ada dua jenis bedak muka yang ditawarkan suatu merk kosmetik untuk remaja pada saat itu, loose powder yang dikemas dalam kotak bulat dan compact powder yang dikemas lebih kompak sesuai namanya dalam kotak persegi tipis. Aku kebingungan dengan dua jenis bedak itu, namun akhirnya memilih yang kedua sesuai saran temanku, karena menurutnya jenis tersebut dapat dipakai pada setiap kesempatan dan mudah dibawa-bawa.
Malamnya di rumah aku menunjukkan bedak tersebut pada ibuku, dan beliau mematahkan mentah-mentah pendapat temanku itu. Menurutnya justru loose powder adalah jenis yang lebih ringan dan dapat dipakai kapanpun, sementara compact powder sifatnya padat dan memblok pori-pori kulit, dan beliau menakut-nakutiku dengan mengatakan mukaku bisa berjerawat kalau aku memakainya pada setiap kesempatan tanpa membersihkan wajah terlebih dahulu.
Hal itu begitu memenuhi pikiranku sehingga keesokan harinya di sekolah aku langsung memprotes temanku. Lalu kami berdebat soal itu – eh tidak, tepatnya aku memprotes, temanku hanya diam, sementara teman sebangkunya mulai marah padaku dan membela dia – dan semuanya terjadi pada saat kami sedang ulangan matematika.
Dan sepanjang jam pelajaran itu aku tidak bisa tenang memikirkan bahwa aku sudah membeli compact powder dan bahwa seharusnya aku membeli loose powder, padahal saat itu aku sedang ulangan matematika.
24 Mei 2008
18:28