foto: dok. migration.wordpress.com
Oh Tuhan,
Aku sungguh tidak percaya sampai saat ini aku masih saja memikirkan hal itu. Kupikir aku sudah mulai melupakannya, dengan perlahan. Tapi mestikah sepelan ini? Harus sampai kapan, Tuhan…
Sejak saat pertama itu, sejak tatapan mata tiba-tiba bermakna, aku tidak pernah tenang lagi. Mata ini selalu mengikuti milikmu, baik kamu ada maupun tiada. Jangan salahkan mataku, jangan salahkan kacamatamu, walaupun itu selalu jadi pembenaranku. Dan batin ini tak henti bertanya-tanya, tentang apa yang ada di baliknya.
Hei, sudah sekian lama aku berusaha menarik uluran benang-benang kebenaran. Benang-benang yang rapuh, serapuh titian antara hatiku dan hatimu. Saat kamu datang mendekat, kupikir segalanya akan lebih mudah. Tapi kita berjalan perlahan sekali. Tanpa arah, tanpa pegangan, kita bahkan berjalan tanpa saling melihat. Apalagi berpegangan tangan, bersentuhan pun tidak.
Perlahan kamu membuka dirimu, aku tahu. Perlahan kamu melihatku, aku bisa lihat. Dan perlahan aku merasa aku ada. Tapi hanya sampai di situlah kamu melangkah. Ya, tepat di garis itu kamu berhenti. Salahkan aku, salahkan ketololanku. Itu garisku, batasanku, aturanku. Penjagaku.
Oh Tuhan, Apakah sekali lagi Kau sedang menegurku dengan kebodohanku sendiri?
Aku tahu aku bodoh. Sejak awal aku tahu aku bodoh bermain-main dengan kelemahanku sendiri. Aku tahu dinding itu akan selalu ada, dan tak peduli bagaimana aku dan kamu bermain-main, aku tak akan pernah melangkahinya, seperti juga kamu tak pernah berpikir untuk melangkahinya. Dan kuakui aku telah menuntunmu sangat dekat ke dinding itu. Aku merasakan kehadiranmu, dekat sekali, seakan bisa kusentuh dengan ujung jari, walaupun kamu ada di baliknya. Dan aku marah-marah karena kamu tak kunjung muncul. Aku berteriak-teriak memanggil namamu, frustasi karena kamu tak kunjung membalas teriakanku. Kamu bahkan tak berbisik. Kamu hanya diam, selalu hanya diam.
Ingatkah kamu saat-saat terakhir kita masih bersama? Kamu seperti orang yang berbeda, nyaris seperti teman. Memanggilku seperti seorang teman, mengobrol denganku seperti seorang teman dekat, dan mengucapkan kata-kata perpisahan layaknya seorang sahabat lama. Dan kamu tak menghindar berdekatan denganku. Dan bahu kita bersentuhan, aku merasakannya. Apa kamu merasakannya?
Dan kata-kata perpisahan itu benar-benar lebih sakti dari sebidang tembok. Tahukah kamu bahwa sebenarnya aku ingin mengucap lebih banyak daripada sekedar selamat tinggal? Bahwa ada ribuan riak di dadaku yang timbul tenggelam? Bahwa ternyata butuh lebih dari sekedar waktu dan jarak untuk membunuh rasa penasaran?
Tuhan, sudah setahun empat bulan dua puluh tujuh hari dan dia masih saja ada. Sudah tiga puluh enam hari dan dia belum menghilang. Butuh sekejap mata untuk jatuh, dan butuh lebih dari selamanya untuk bangun. Kalau satu kalimat saja bisa menopangku berdiri tegak, tolong sampaikanlah, Tuhan…
Sabtu 19 April 2008
03:10
