Feeds:
Tulisan
Komentar

5 years ago,

There was a time when I dreamt about him a lot,

thought about words to say if I finally get a chance to meet him again.

But he and I never really reunited,

left me behind with all those supposed-to-end-up-good dreams,

that never happened.

And all the words sunk in my head, dug bigger hole in my chest,

and all the questions never got answered,

left me wonder and keep asking and crying.

It took months to heal and years to finally understand.


Here I am, 5 years later,

And one step from here the same story seems to be waiting for me.

All I want is a closure,

but I’d rather prepare for the worse,

that I should find myself another understanding.


11 December 2008

19:11

If you had known that love hurts, would you have preferred not to fall at all?


*Waking Up To Us by Belle And Sebastian

So-Called-Relationship

Hon,

Dari awal aku sudah bilang, bahwa pada suatu hari mungkin aku memang harus menerima,

Bahwa kenyataan mungkin tidak seideal dan seindah yang dibayangkan.

Tapi sebenarnya, aku ingin melihat usaha dari kamu,

Untuk mempertimbangkan keinginan-keinginanku.


The thing is,

Aku sudah terlalu lama hidup hanya dengan bayang-bayangmu.

Bukan dirimu seutuhnya, hanya bayangan tentang dirimu sebatas yang aku pernah tahu.

And the thing is,

People seem to change a lot.

Now I don’t think I really know you.


Do you call this a relationship?

I have my own little world and you are always too busy with your own life, and we don’t share too much as the only media we have don’t show who we really are.

Aku hanya ingin kita sempat berkenalan sebelum melangkah lebih jauh.

Agar aku tidak terlalu kaget lagi dengan warna-warni barumu.


Kamu bilang, “Aku akan jadi suamimu, kamu harus percaya sama aku.”

Memangnya apa yang akan membedakan perlakuanmu padaku sebagai pacarku dan sebagai suamiku?

Kalau sebagai pacarku kamu sulit meluangkan waktu dan menjadikanku prioritas yang kesekian, apa yang menjamin bahwa sebagai suamiku kamu tidak akan melakukan hal yang sama?


Apakah ini tentang jarak?

I hate this so-called-long-distance-relationship then.


12 november 08

Mimpi

aku memimpikan bisa merasakan lagi masa pacaran dengan kamu
dengan kamu hadir secara fisik, dan kita mengobrol apa saja
mulai dari yang penting-penting sampai teka-teki garing
dan bisa saling bebas melontarkan apapun yg ada di dalam kepala
melakukan apapun secara spontan
tanpa harus menunggu waktu yg tepat untuk login ke ym
atau membatasi obrolan karena media komunikasi dan waktu yang terbatas

dan aku ingin mulai mengenalmu dari awal lagi
karena terkadang kamu terasa sangat asing
di suatu saat aku menemuimu yang berwarna biru
dan hop! enam bulan kemudian tau-tau saja warnamu sudah merah
aku ingin mengenalmu hingga
aku tau jumlah jerawat di mukamu
hafal gerakan tanganmu saat berbicara
atau berapa lama kamu mandi setiap pagi

aku mengkhayalkan kamu mengajakku menikah
dan merencanakan bulan madu ke tempat yang indah
jalan-jalan santai keliling kota berpegangan tangan
mengobrol dan menertawakan sesuatu dan hanya kita yang tau apa yang lucu
lalu kita bisa berfoto di atas jembatan
duduk di pasir pantai hingga gelap
dan mengenangnya seumur hidup

aku memang membayangkan kita bersama-sama melihat gedung
memilih cincin
membuat foto prewedding
sambil saling menertawakan gaya masing-masing
mungkin kita akan sedikit bertengkar soal siapa yang jadi fotografer
atau warna apa yang bagus untuk undangan
tapi semuanya membuat kita semakin saling mengenal
dan aku tidak akan kaget melihatmu marah
karena aku sudah sering melihatmu tersenyum
tidak sakit hati melihatmu terlalu sibuk bekerja
karena kita juga menghabiskan banyak waktu bersama

aku bisa melihat kita tinggal di rumah mungil
dengan banyak jendela dan cahaya matahari
dan aku punya dapur yang membuatku betah
memasakkanmu macam-macam dan berdebar menunggumu pulang
dan saat di rumah fokusmu adalah tentang kita
bukan paper yang deadlinenya tinggal dua hari lagi
atau inboxmu karena kamu tak mau terlewat email dari bosmu

dangkal? terlalu sinetron? tidak realistis?
jangan berani-berani kamu sebut mimpiku tidak penting
kalau kamu boleh punya mimpi setinggi langit
kenapa aku tidak boleh punya mimpi yang dangkal-dangkal?
kalo kamu bisa ngotot mendapatkan yang kamu mau
kenapa aku tidak bisa memastikan mimpiku jadi kenyataan?

buat apa kita bersama-sama kalau aku cuma jadi pelengkap cita-citamu yang hebat
sementara mimpiku cuma mimpi-mimpi sampah
yang bahkan kamu pikir tidak ada perlunya untuk masa depan’mu’ yang serba tinggi
kalau kamu mau aku mendukungmu
kenapa kamu tidak coba menghargai inginku?

5 november 08

19:10

Mungkin, aku memang terlalu banyak berharap. Aku lupa kamu manusia, kamu tidak sempurna. Dulu aku bisa menerima kamu apa adanya, tapi aku terlalu lama hidup hanya dengan bayang-bayangmu, dan kecewa karena kamu tak seindah khayalanku.

Mungkin, aku perlu belajar berhenti meminta. Karena sepertinya memenuhi permintaanku bagimu sama sulitnya seperti hadir secara langsung di sini. Walau sebagai timbal baliknya, aku menahan diriku untuk memberi.

Mungkin, aku hanya perlu menyegarkan pikiranku. Sejenak melepaskan diri dari keterikatan sukarela ini. Berhenti berpikir. Mencoba hidup hanya untuk hari ini.

Mungkin, aku harus memulai segalanya dari awal lagi. Dari nol. Dari putih bersih. New document. Refresh. Regeneration. Mengenyahkan borok-borok dan berpura-pura semuanya tak pernah terjadi. Berhenti mengharapkan yang muluk-muluk, berhenti memikirkan yang buruk-buruk.

Mungkin, kamu benar. Aku hanya perlu menemukan diriku lagi, mencoba hidup lagi.

Bersabar, lagi-lagi. Terutama terhadap sakit-sakit di ulu hati ini.

Senin, 4 agustus 08

19:59

menghindar dan berdebar-debar

Oh I can’t believe you’re so mean! You make me weep even louder, but I feel somewhat relieved. Well okay then, I’d take that as an answer and here’s the deal. If I can’t depend on you then I’d rather be independent at all. And you will no longer have any rights to take parts in my life. Or at least until I say you can.

 

Bye for now.

 

 

30 July 2008

23:48

 

 

* diadaptasi dari lagu To Be Myself Completely oleh Belle And Sebastian.

Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Yang aku tahu cuma, aku sangat kesepian. Aku membayangkan, alangkah senangnya kalau ada yang menemani. Ada yang menyertai kalau ingin pergi. Dan ada yang menunggui saat tak mengerjakan apapun sama sekali. Tapi di samping kesepian, aku juga sangat pesimis. Aku merana tanpa keberadaanmu, tapi aku bahkan tak yakin segalanya akan lebih baik kalau kau ada. Seolah aku masih kurang dalam terkubur. Tak ada cahaya sama sekali yang bisa kulihat. Gelap, gelaaap sekali.

 

Dan kenapa, air mata ini mengalir seperti sudah ada jadwalnya. Begitu rutin, datang setiap beberapa hari sekali. Seketika tumpah saat sore menjelang malam. Saat cahaya digantikan gelap.

 

Sudah pernah kusebut kan kalau aku benci gelap dan meraba-raba?

 

Aku benci ingatan burukku tentang pertemuan terakhir kita. Dari situlah masa depan suram ini berawal. Seakan tak cukup aku tersisihkan selama kau tak ada, bahkan di sisimu pun aku masih disisihkan. Dipinggirkan, tepat di atas rabat selokan, kapanpun bisa jatuh. Seolah aku tak cukup penting untuk berada di sisimu. Tidak, aku harus merelakannya untuk orang-orang lain.

 

Siapa lagi yang bisa mengangkat harga diriku?

 

Aku ingin sekali bisa percaya janji-janjimu. Memangnya aku tidak lelah berpikiran negatif? Tapi kalau itu yang kauperlihatkan saat terakhir kita bertemu, kalau itulah yang terpatri di benakku (yang kotor dan gelap ini), bagaimana bisa aku melangkah mengangkat kepala? Bagaimana caranya aku tahu ada cahaya kalau yang kauperlihatkan adalah dunia bawah tanah?

 

Aku lelah.

 

Aku lelah dengan sepi, dan rasa sepi ini membunuhku perlahan-lahan. Seperti seluruh kebahagiaan di sekitarku diserap diam-diam, aku tak dapat mengenalinya lagi. Apalagi mengecapnya. Bahkan aku hampir lupa bagaimana rasanya, sungguh.

 

Aku lelah menanti. Tapi tak bisa berhenti. Aku tidak yakin, dan aku ingin pasti. Aku benci terbelenggu, tapi aku tak tahu bagaimana caranya untuk lepas. Haruskah aku merelakan gelas-gelas ini pecah?

 

Jadi, dengan segala hormat, bisakah kau katakan, ada terang di ujung jalan? Karena kau bahkan terlihat tidak mantap saat kau bilang kau menginginkannya. Bagaimana caranya aku memegang sesuatu yang bergoyang?

 

Ah, kenapa, segalanya harus berbenturan dengan sesuatu yang dinamai waktu. Dan kenapa sabar selalu jadi jawaban andalan yang keluar dari mulut orang-orang. Sementara sabar adalah hal terakhir yang mampu aku lakukan, tepat berdampingan dengan berpikir positif dan optimis. Sulit bagiku bersabar, karena aku tidak yakin sabarku diganjar.

 

Yah, sudahlah, mungkin lama-lama aku bisa menikmati ini. Mungkin aku akan mulai menanti datangnya hari-hari berair mata itu seperti sebuah kegiatan mingguan. Sampai kapan? Sampai ada yang menjawab, mungkin.

 

 

29 juli 08

If I could only have a half of you, then I’d rather not have you at all.

Because why should I suffer to deal with things I dislike if I could choose to only deal with things I like?

 

 

 

Maybe I’ll learn how to stop loving you possessively.

No, I’ll just learn how to let go of you.

 

 

22 July 2008

16:50

Aku suka merah, aku suka biru. Aku tidak pernah suka ungu.

 

Aku suka gelas yang terisi penuh. Akan kuhabiskan airnya sekali teguk. Aku tidak suka membiarkannya tinggal setengah.

 

Aku suka kata ‘iya’. Dan aku bisa memahami kata ‘tidak’. Tapi aku tidak suka apapun di antaranya.

 

Aku suka segala yang terang-benderang. Aku benci gelap. Aku benci harus meraba-raba dan mengira-ngira.

 

Aku menyukai pola-pola. Bentuk-bentuk yang jelas, rapi, teratur, dan berirama. Seperti bunyi detak lampu sen. Di mana bunyi selanjutnya dapat dipastikan di mana jatuhnya.

 

Aku suka penggaris, meteran, timbangan, measuring cups. Segala yang terukur. Segala yang tak terukur pun akan kuukur dengan pasti, berkali-kali. Aku tidak percaya pembulatan dan probabilitas.

 

Aku cinta kepresisian, ketelitian. Dan aku benci ketidakpastian, ketidaktepatan.

 

Aku suka kata cinta. Aku bisa menerima kalau tidak ada cinta. Tapi aku tidak suka bertanya-tanya.

 

Aku bahagia menikmati cinta. Meski patah hatipun bisa kunikmati dengan penuh inspirasi. Tapi aku benci terombang-ambing, merasa kosong.

 

Aku ingin sekarang, atau tidakpun tidak apa-apa. Tapi aku benci harus menunggu dan bersabar.

 

Aku ingin mempercayai ‘akan’, mengerti ‘tidak akan’. Aku tidak mau mendengar ‘mungkin’.

 

Jadi. Tolong. Sekarang.

 

 

16 juli 08

Akhirnya aku mencoba menyesap hening dan sepi selama beberapa menit. Hening untuk mendengarkan hati, sepi untuk sendiri. Dan seketika itu pulalah jawaban itu muncul. Benar juga apa yang pernah dikatakan seorang sahabatku, kadang kita terlalu banyak mendengarkan suara-suara orang. Dan mereka bising sekali, berdengung-dengung di kuping kita. Mungkin kita hanya perlu mengibaskan tangan dan berhenti mendengarkan riuh-rendah yang majemuk dan berlapis-lapis itu.

Karena tidak akan ada habisnya mereka didengarkan. Apa yang aku lakukan sekedar ‘demi memuaskan’ mereka bahkan takkan ada artinya dalam kehidupan mereka. Tapi apa yang aku lakukan dengan hatiku akan membuat hidupku jadi lebih menyenangkan.

Ya, sesederhana itulah tujuan hidupku. Untuk dijalani dengan senang. Untuk merasakan bahagia. Untuk dinikmati sepenuh hati. Aku tidak mau lagi membuang-buang waktu untuk merasa tertekan dan tidak bahagia. Tidak juga demi uang.

Buat apa coba cari uang banyak-banyak? Untuk dihabiskan menghibur hati yang lelah karena mencarinya? Atau supaya merasa aman? Menenangkan hati orangtua dan orang-orang lain yang terlalu sibuk bertanya-tanya? Bukankah sudah cukup asal tidak kekurangan?

Aku cuma lupa, kenapa aku menggadaikan rasa aman itu empat bulan lalu. Bukan demi prestise. Jelas tidak dalam waktu dekat dan tidak pula untuk jangka panjang. Dan kalau aku bilang bahwa aku sedang merintis, maka itu kulakukan bukanlah demi membuktikan diri. Bukan pula sekedar justifikasi atau pembelaan diri. Tapi suatu proses menikmati hidup.

Hingga akhirnya kukatakan pada diriku sendiri, aku harus percaya, jangan takut, jangan berpikir negatif, jangan menyerah pada ujian-ujian yang pasti datang. Walau tak disangka-sangka ujian pertama datang darinya, dia dengan ucapannya yang terasa agak menggelitik, dia yang justru sudah sejak lama mendorongku untuk mencoba menyesap hening dan sepi.

 

7 juli 08

Sebuah lagu lama dari sekitar tahun sembilan puluh lima yang tiba-tiba diputar di radio selepas azan magrib membuatku teringat masa-masa aku masih kelas satu SMP. Saat itu aku memiliki seorang teman yang menjadi teman dekat karena jalan pulang kami searah dan kami sering mampir kesana-kemari sebelum pulang ke rumah.

 

Suatu hari ceritanya aku ingin membeli bedak muka pertamaku, maka kami pergi ke supermarket yang dekat dengan sekolah kami. Karena itu pertama kalinya aku membeli alat kosmetik, aku merasa sedang melakukan sesuatu yang penting dan tidak boleh sampai salah memilih. Ternyata ada dua jenis bedak muka yang ditawarkan suatu merk kosmetik untuk remaja pada saat itu, loose powder yang dikemas dalam kotak bulat dan compact powder yang dikemas lebih kompak sesuai namanya dalam kotak persegi tipis. Aku kebingungan dengan dua jenis bedak itu, namun akhirnya memilih yang kedua sesuai saran temanku, karena menurutnya jenis tersebut dapat dipakai pada setiap kesempatan dan mudah dibawa-bawa.

 

Malamnya di rumah aku menunjukkan bedak tersebut pada ibuku, dan beliau mematahkan mentah-mentah pendapat temanku itu. Menurutnya justru loose powder adalah jenis yang lebih ringan dan dapat dipakai kapanpun, sementara compact powder sifatnya padat dan memblok pori-pori kulit, dan beliau menakut-nakutiku dengan mengatakan mukaku bisa berjerawat kalau aku memakainya pada setiap kesempatan tanpa membersihkan wajah terlebih dahulu.

 

Hal itu begitu memenuhi pikiranku sehingga keesokan harinya di sekolah aku langsung memprotes temanku. Lalu kami berdebat soal itu – eh tidak, tepatnya aku memprotes, temanku hanya diam, sementara teman sebangkunya mulai marah padaku dan membela dia – dan semuanya terjadi pada saat kami sedang ulangan matematika.

 

Dan sepanjang jam pelajaran itu aku tidak bisa tenang memikirkan bahwa aku sudah membeli compact powder dan bahwa seharusnya aku membeli loose powder, padahal saat itu aku sedang ulangan matematika.

 

24 Mei 2008

18:28

Tulisan Sebelumnya »