Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Yang aku tahu cuma, aku sangat kesepian. Aku membayangkan, alangkah senangnya kalau ada yang menemani. Ada yang menyertai kalau ingin pergi. Dan ada yang menunggui saat tak mengerjakan apapun sama sekali. Tapi di samping kesepian, aku juga sangat pesimis. Aku merana tanpa keberadaanmu, tapi aku bahkan tak yakin segalanya akan lebih baik kalau kau ada. Seolah aku masih kurang dalam terkubur. Tak ada cahaya sama sekali yang bisa kulihat. Gelap, gelaaap sekali.
Dan kenapa, air mata ini mengalir seperti sudah ada jadwalnya. Begitu rutin, datang setiap beberapa hari sekali. Seketika tumpah saat sore menjelang malam. Saat cahaya digantikan gelap.
Sudah pernah kusebut kan kalau aku benci gelap dan meraba-raba?
Aku benci ingatan burukku tentang pertemuan terakhir kita. Dari situlah masa depan suram ini berawal. Seakan tak cukup aku tersisihkan selama kau tak ada, bahkan di sisimu pun aku masih disisihkan. Dipinggirkan, tepat di atas rabat selokan, kapanpun bisa jatuh. Seolah aku tak cukup penting untuk berada di sisimu. Tidak, aku harus merelakannya untuk orang-orang lain.
Siapa lagi yang bisa mengangkat harga diriku?
Aku ingin sekali bisa percaya janji-janjimu. Memangnya aku tidak lelah berpikiran negatif? Tapi kalau itu yang kauperlihatkan saat terakhir kita bertemu, kalau itulah yang terpatri di benakku (yang kotor dan gelap ini), bagaimana bisa aku melangkah mengangkat kepala? Bagaimana caranya aku tahu ada cahaya kalau yang kauperlihatkan adalah dunia bawah tanah?
Aku lelah.
Aku lelah dengan sepi, dan rasa sepi ini membunuhku perlahan-lahan. Seperti seluruh kebahagiaan di sekitarku diserap diam-diam, aku tak dapat mengenalinya lagi. Apalagi mengecapnya. Bahkan aku hampir lupa bagaimana rasanya, sungguh.
Aku lelah menanti. Tapi tak bisa berhenti. Aku tidak yakin, dan aku ingin pasti. Aku benci terbelenggu, tapi aku tak tahu bagaimana caranya untuk lepas. Haruskah aku merelakan gelas-gelas ini pecah?
Jadi, dengan segala hormat, bisakah kau katakan, ada terang di ujung jalan? Karena kau bahkan terlihat tidak mantap saat kau bilang kau menginginkannya. Bagaimana caranya aku memegang sesuatu yang bergoyang?
Ah, kenapa, segalanya harus berbenturan dengan sesuatu yang dinamai waktu. Dan kenapa sabar selalu jadi jawaban andalan yang keluar dari mulut orang-orang. Sementara sabar adalah hal terakhir yang mampu aku lakukan, tepat berdampingan dengan berpikir positif dan optimis. Sulit bagiku bersabar, karena aku tidak yakin sabarku diganjar.
Yah, sudahlah, mungkin lama-lama aku bisa menikmati ini. Mungkin aku akan mulai menanti datangnya hari-hari berair mata itu seperti sebuah kegiatan mingguan. Sampai kapan? Sampai ada yang menjawab, mungkin.
29 juli 08